FAJARSUKABUMI – Hari Raya Waisak merupakan hari suci bagi umat Buddha yang diperingati setiap tahun di Indonesia.
Perayaan ini tak hanya bermakna spiritual, tetapi juga mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, terutama sejak ditetapkannya sebagai hari libur nasional.
Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya.
Baca Juga: Ini Pesan Asep Japar Kepada IBI Sukabumi
Di Indonesia, perayaan Waisak memiliki akar sejarah yang panjang, seiring dengan masuknya agama Buddha pada abad ke-2 hingga ke-5 Masehi melalui jalur perdagangan dari India.
Puncak perkembangan agama Buddha terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Mataram Kuno.
Candi Borobudur, yang dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, menjadi simbol kejayaan Buddha di Nusantara dan kini menjadi pusat perayaan Waisak setiap tahunnya.
Baca Juga: Konflik Semakin Memanas, India Luncurkan Rudal ke Pangkalan Udara Militer Pakistan
Hari Raya Waisak mulai dikenal secara nasional sejak era kemerdekaan, namun baru ditetapkan secara resmi sebagai hari libur nasional oleh pemerintah pada tahun 1983.
Sejak saat itu, umat Buddha di seluruh Indonesia bebas merayakan Waisak secara terbuka, termasuk dengan prosesi suci dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.
Prosesi ini disaksikan tidak hanya oleh umat Buddha, tetapi juga masyarakat umum dan wisatawan mancanegara, menjadikannya ajang persaudaraan, toleransi, dan pelestarian budaya.
Baca Juga: Mensesneg Bantah Pengunduran Diri Hasan Nasbi karena Masalah Anggaran di PCO: Tidak Ada Kaitannya
Kini, Hari Raya Waisak di Indonesia tak sekadar menjadi momen keagamaan, melainkan juga simbol keberagaman dan warisan sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat modern.