FAJARSUKABUMI - Dari hanya tujuh peserta pada gelaran perdana, kini menjadi tujuh puluh.
Lonjakan jumlah partisipan dalam Sukabernyanyi Vol. 3 menunjukkan satu hal: musik tumbuh subur di akar komunitas Kota Sukabumi.
Ajang ini bukan sekadar panggung, melainkan ruang pertemuan antarwarga yang menjadikan musik sebagai bahasa sehari-hari.
Baca Juga: Remaja Masjid Didorong Jadi Pelopor Nilai Kejujuran di Tengah Tantangan Zaman
Tanpa sekat usia, genre, atau latar belakang, mereka datang untuk berbagi suara, bukan berkompetisi, tetapi berjejaring.
Salah satu yang ikut bersuara adalah Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana. Namun, bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai pribadi yang tumbuh bersama musik.
"Musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Saya mulai bermusik sejak SMP dan semakin serius ketika SMA,” ujarnya di tengah kegiatan.
Baca Juga: Lima PPKS di Dayeuhluhur Terima Bantuan, Pemkot Sukabumi Tegaskan Komitmen Sosial
Ia tak banyak bicara soal program atau dukungan pemerintah. Yang disorot justru atmosfer kegiatan semangat kolektif, ruang terbuka, dan konsistensi komunitas lokal dalam membangun ekosistem yang ramah bagi para pelaku seni.
Pertumbuhan peserta menjadi bukti paling konkret. Dari puluhan menjadi puluhan kali lipat hanya dalam tiga gelaran.
Tak ada lomba, tak ada seleksi ketat—yang penting adalah keberanian tampil dan keinginan untuk terhubung lewat karya.
Baca Juga: Sukabumi, Bukan Sekadar Kota Mochi: Antara Religiusitas, Alam Sejuk, dan Geliat Kreatif
Menurut Bobby, ruang-ruang seperti ini penting untuk terus dipertahankan.
Pemerintah, katanya, punya tanggung jawab membuka akses dan memberi dukungan terhadap inisiatif-inisiatif berbasis komunitas.