Oleh : Kang Warsa
Akhir-akhir ini, banyak konten di media sosial menayangkan aktivitas orang-orang Vrindavan, baik saat mereka berkegiatan maupun saat membuat dan menikmati kuliner.
Banyak orang menontonnya sebagai hiburan, sambil menertawakan tingkah mereka yang dianggap seperti mundur beberapa dekade ke belakang.
Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, sebagian perilaku itu tidak berbeda jauh dari kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia kontemporer.
Baca Juga: Dua Hari Terjadi 5 Kejadian Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Sukabumi
Fenomena seperti ini pernah terjadi pada masa kolonial ketika orang-orang Eropa merasa berada di puncak pohon evolusi, lalu memandang pribumi sebagai sosok yang lucu dan tertinggal.
Di berbagai tempat di dunia, pembedaan antara “beradab” dan “nir-peradaban” sering dikaitkan dengan garis batas yang kaku antara kota dan desa. Orang desa, dalam banyak hal, sering dianggap tertinggal dibandingkan masyarakat kota yang hidup dengan cara-cara modern.
Analogi tersebut mirip dengan batasan simbolik antara Vrindavan yang lekat dengan cerita kuno dan kesederhanaan, dengan kelompok Aria yang menempati wilayah perkotaan India; berkulit lebih cerah, tinggal di gedung megah, dan hidup serba modern. Maka tidak heran jika sebagian orang memandang perilaku Vrindavan sebagai sesuatu yang mundur, sebagaimana orang kota memandang warga desa sebagai “ndeso”.
Baca Juga: Raih Kemenangan Atas PSM Makassar, Borneo FC Ambil Alih Kembali Puncak Klasemen dari Persib Bandung
Namun pandangan tersebut sejatinya terlalu menyederhanakan realitas. Masalah sosial di era modern tidak selalu berakar dari karakter desa. Justru perilaku yang diasosiasikan dengan “Vrindavanisme”, kejorokan dan kekumuhan, lebih sering dijumpai di kawasan perkotaan.
Pada tahun 80–90an, masyarakat desa terbiasa mengelola sampah dengan cara menggali lubang besar di belakang rumah. Sampah dibuang ke sana, kemudian dibakar atau dibiarkan hingga suatu waktu ditimbun kembali. Mereka tidak membuang sampah dalam kantong plastik ke sungai, sebagaimana banyak terjadi di kota ketika lahan mulai padat dan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan semakin rendah.
Saya sering mengatakan kepada teman-teman bahwa ketika bangsa ini menertawakan tayangan Vrindavan, sesungguhnya banyak perilaku serupa yang masih menjadi bagian kehidupan kita, terutama soal kejorokan.
Baca Juga: Batas Kota
Meskipun tinggal di kota, jika seseorang masih membuang sampah sembarangan, mengotori selokan, atau mengabaikan kebersihan lingkungan, maka secara sosial mereka tidak berbeda jauh dengan “bangsa Vrindavan versi Sukabumi”.
Artikel Terkait
Jalan Setapak, Jejak Peradaban dan Kenangan yang Mulai Sirna
Barokah dan Belenggu: Dialektika Kuasa di Balik Tirai Kesucian Membaca Ulang Relasi Kiai–Santri dalam Pusaran Modernitas
Pemanasan Baru Dimulai
Sukabumi, Bukan Sekadar Kota Mochi: Antara Religiusitas, Alam Sejuk, dan Geliat Kreatif
Dialektika Reformasi: Nalar Instrumental dan Dominasi Oligarkis di Indonesia Pasca-Orde Baru
Pembangunan Kesehatan Kota di Masa Udin Koswara dan Muslikh Abdussyukur
Prokasih di Era Muslikh Abdussyukur
Revolusi Industri 5.0, Ketika Manusia dan Mesin Bermitra
Manusia, Kenisbian, dan Jejak Masa Silam Alam Semesta
Batas Kota