Minggu, 19 April 2026

Kita dan Vrindavan

Photo Author
FS Supriadi, FajarSukabumi.com
- Minggu, 4 Januari 2026 | 10:40 WIB
Kang Warsa
Kang Warsa

Oleh :  Kang Warsa

Akhir-akhir ini, banyak konten di media sosial menayangkan aktivitas orang-orang Vrindavan, baik saat mereka berkegiatan maupun saat membuat dan menikmati kuliner.

Banyak orang menontonnya sebagai hiburan, sambil menertawakan tingkah mereka yang dianggap seperti mundur beberapa dekade ke belakang. 

Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, sebagian perilaku itu tidak berbeda jauh dari kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia kontemporer.

Baca Juga: Dua Hari Terjadi 5 Kejadian Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Sukabumi

Fenomena seperti ini pernah terjadi pada masa kolonial ketika orang-orang Eropa merasa berada di puncak pohon evolusi, lalu memandang pribumi sebagai sosok yang lucu dan tertinggal.

Di berbagai tempat di dunia, pembedaan antara “beradab” dan “nir-peradaban” sering dikaitkan dengan garis batas yang kaku antara kota dan desa. Orang desa, dalam banyak hal, sering dianggap tertinggal dibandingkan masyarakat kota yang hidup dengan cara-cara modern. 

Analogi tersebut mirip dengan batasan simbolik antara Vrindavan yang lekat dengan cerita kuno dan kesederhanaan, dengan kelompok Aria yang menempati wilayah perkotaan India; berkulit lebih cerah, tinggal di gedung megah, dan hidup serba modern. Maka tidak heran jika sebagian orang memandang perilaku Vrindavan sebagai sesuatu yang mundur, sebagaimana orang kota memandang warga desa sebagai “ndeso”.

Baca Juga: Raih Kemenangan Atas PSM Makassar, Borneo FC Ambil Alih Kembali Puncak Klasemen dari Persib Bandung

Namun pandangan tersebut sejatinya terlalu menyederhanakan realitas. Masalah sosial di era modern tidak selalu berakar dari karakter desa. Justru perilaku yang diasosiasikan dengan “Vrindavanisme”, kejorokan dan kekumuhan, lebih sering dijumpai di kawasan perkotaan. 

Pada tahun 80–90an, masyarakat desa terbiasa mengelola sampah dengan cara menggali lubang besar di belakang rumah. Sampah dibuang ke sana, kemudian dibakar atau dibiarkan hingga suatu waktu ditimbun kembali. Mereka tidak membuang sampah dalam kantong plastik ke sungai, sebagaimana banyak terjadi di kota ketika lahan mulai padat dan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan semakin rendah.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman bahwa ketika bangsa ini menertawakan tayangan Vrindavan, sesungguhnya banyak perilaku serupa yang masih menjadi bagian kehidupan kita, terutama soal kejorokan.

Baca Juga: Batas Kota

Meskipun tinggal di kota, jika seseorang masih membuang sampah sembarangan, mengotori selokan, atau mengabaikan kebersihan lingkungan, maka secara sosial mereka tidak berbeda jauh dengan “bangsa Vrindavan versi Sukabumi”. 

Halaman:

Editor: FS Supriadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X