FAJARSUKABUMI — Ratusan remaja memadati Geopark Information Center di Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, akhir pekan lalu 10-11 Mei 2025, untuk mengikuti audisi film Senja yang Hilang. Film ini diangkat dari kisah nyata tentang praktik perdagangan orang dan isu yang masih menjadi luka terbuka di berbagai wilayah Indonesia.
Audisi yang berlangsung selama dua hari itu menyedot perhatian remaja dari berbagai daerah. Mereka bersaing memperebutkan peran dalam film garapan sutradara Bara Bantalaseta dan penulis Satria Pena, yang berambisi menjadikan karya ini sebagai medium penyadaran sosial, bukan sekadar tontonan.
“Saya baru pertama kali ikut casting film, dan langsung tertarik karena ceritanya sangat kuat dan menyuarakan hal yang serius,” ujar Djemima Shireen, Putri Nelayan 2025 yang ikut ambil bagian dalam audisi.
Baca Juga: Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Jalin Kerja Sama Internasional dengan Geopark Terbesar di Eropa
Bara Bantalaseta menyebut bahwa Senja yang Hilang akan menyuguhkan kombinasi antara kritik sosial dan visual sinematik yang memukau.
“Kami ingin mengangkat isu perdagangan orang lewat pendekatan yang lebih emosional dan artistik. Lokasinya pun tidak main-main, di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yang kini berstatus UNESCO Global Geopark,” katanya.
Proses syuting dijadwalkan dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Film ini akan mengambil latar alam eksotis Sukabumi sebagai simbol paradoks: keindahan yang menyimpan ironi atas praktik kemanusiaan yang gelap.
Artikel Terkait
Geopark Ciletuh Festival Tahun 2024 Dorong Destinasi Wisata Berkelas Dunia
Ketua BP CPUGGp Berganti, Iyos : Geopark Ciletuh Palabuhanratu Menjadi Kacamata Untuk Geopark Lain
Nasib Status Geopark Ciletuh Palabuhanratu di Ujung Tanduk, Ketua Ciletuh: Revalidasi Tugas Berat
Sampah Menjadi Tantangan Utama Dalam Pengelolaan Geopark Ciletuh, Ratusan Peserta Dikerahkan Memungut Sampah
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Jalin Kerja Sama Internasional dengan Geopark Terbesar di Eropa