Saat air naik tersebut, menurut pengakuannya, Mumtaz selalu dipeluk oleh ibunya.
Namun, pelukan tersebut terlepas setelah berulang kali dihantam air dan kayu.
Rumah Hancur dan Selalu Ingat Kenangan dengan Anaknya
Jenazah Mumtaz sudah ditemukan pascabanjir, tapi kondisi wajahnya sudah berubah.
Akibat banjir tersebut, rumahnya hancur dan potongan kayu beragam ukuran berserakan di depan rumah yang dulu ditinggali.
“Biasa waktu pulang kerja, selalu minta jalan-jalan dulu. Jadi, selama pulang ini selalu teringat Mumtaz,” tuturnya.
Sementara itu, Desa Garoga menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah banjir dan longsor.
Pembersihan batang kayu di Garoga pun menjadi prioritas pemerintah saat ini.
Ada 3 hal yang tengah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, yakni membersihkan bagian hilir, pemantauan titik longsor di hulu, dan peringatan dini kepada masyarakat soal potensi banjir susulan disertai kayu.
Pemerintah Daerah juga tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap kepada korban banjir dan longsor, termasuk untuk warga di Garoga.
Pembangunan rumah tersebut, menurut Pemda ditargetkan akan rampung pada awal tahun 2026.
*
Artikel Terkait
Detik-detik Banjir Bandang Terjang Guci Tegal, Pancuran 5 dan 13 Dilaporkan Rusak Parah
Tumbangkan PSM Makassar, Malut United Salip Persib Bandung di Posisi Ketiga Klasemen Sementara
Puluhan UMKM Ramaikan Sukabumi Fashion and Culinary Nite Festival 2025, Dorong Ekonomi Lokal
Dorong UMKM dan Gaya Hidup Sehat, Jalan Ahmad Yani Sukabumi Resmi Jadi Area Car Free Day
Puluhan Tim Perebutkan Trophy Tournament Basketball BAPORA PP 02
Geser Persija Jakarta, Persib Bandung Sukses Naik Ke Posisi 2 Setelah Tumbangkan Bhayangkara FC
Momen Hari Ini, Begini Pesan Bupati Sukabumi