FAJARSUKABUMI - Hamparan pohon-pohon kurma berdaun tajam dan menjulang tinggi kini menjadi pemandangan tak biasa di Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Di balik perbukitan karst dan gemuruh ombak Geopark Ciletuh, pohon kurma varietas Barhee tumbuh subur di atas lahan seluas tujuh hektare.
Pohon-pohon itu berdiri tegak dalam barisan rapi dengan jumlah mencapai ratusan batang. Sebagian sudah mulai berbunga, bahkan berbuah. Warna kuning cerah buah mudanya mencolok di antara hijau dedaunan, menandakan masa panen sebentar lagi tiba.
“Ini varietas Barhee, warnanya kuning saat muda. Rasanya manis, seperti apel,” ujar Alwi Rahmatullah, pengelola kebun.
Baca Juga: Bangkit dari Krisis, AIG Tunjukkan Kekuatan Baru Berkat Kepemimpinan Peter Zaffino
Alwi menjelaskan, kawasan Geopark Ciletuh dipilih karena memiliki karakteristik iklim dan tanah yang cocok untuk budidaya kurma.
Suhu siang yang cukup panas berpadu dengan suhu malam yang relatif dingin, menciptakan kondisi mikroklimat yang ideal.
“Kurma itu butuh suhu dingin untuk merangsang pembungaan, dan panas untuk mematangkan buah. Di sini, dua-duanya tersedia secara alami,” kata Alwi. “Tanahnya juga berpasir, cocok untuk akar kurma yang tidak suka tergenang.” ucapnya
Geopark Ciletuh bukan hanya kawasan geologis, tapi juga destinasi wisata yang sudah diakui UNESCO.
Lokasi kebun yang berada di tengah kawasan wisata pun menjadi nilai tambah. “Ini juga jadi pertimbangan kami. Selain cocok untuk budidaya, lokasinya strategis untuk edukasi dan wisata,” ujar Alwi.
Meski mulai menarik perhatian banyak pihak, kebun kurma di Mekarsakti belum sepenuhnya dibuka untuk umum. Alwi menegaskan, saat ini tim masih fokus pada produksi dan perawatan tanaman.
Baca Juga: Mobil Modern Tak Lagi Sekadar Alat Transportasi, Kini Jadi Sarana Gaya Hidup dan Keamanan
“Kunjungan tamu masih terbatas, karena buahnya belum banyak. Kalau nanti semua sudah berbuah, baru dibuka untuk umum,” ucapnya. “Siapapun nanti bisa datang, tapi untuk membeli buah matang masih belum memungkinkan karena produksinya masih terbatas.” ungkapnya
Artikel Terkait
Geopark Ciletuh Festival 2024 Suguhkan Gelar Budaya Hingga Trauma Healing Korban Bencana Sukabumi
Geopark Ciletuh Festival Tahun 2024 Dorong Destinasi Wisata Berkelas Dunia
Ketua BP CPUGGp Berganti, Iyos : Geopark Ciletuh Palabuhanratu Menjadi Kacamata Untuk Geopark Lain
Nasib Status Geopark Ciletuh Palabuhanratu di Ujung Tanduk, Ketua Ciletuh: Revalidasi Tugas Berat
Sampah Menjadi Tantangan Utama Dalam Pengelolaan Geopark Ciletuh, Ratusan Peserta Dikerahkan Memungut Sampah
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Jalin Kerja Sama Internasional dengan Geopark Terbesar di Eropa
Bukan Pulau Gag, Aktivitas Dua Perusahaan Ini yang Justru Ancam Pulau Geopark Raja Ampat
Status Dunia Dipertaruhkan, Geopark Ciletuh Hadapi Momen Penentu
Revalidasi Geopark Ciletuh 2025 Ditutup, UNESCO Puji Komitmen Masyarakat Jaga Alam
Warung di Pantai Geopark Ciletuh Palabuhanratu Terbakar, Kerugian Mencapai Puluhan Juta