FAJARSUKABUMI - Pemerintah Kota Sukabumi menaruh atensi terhadap penanganan kasus stunting. Pasalnya, kurun tiga tahun terakhir angka prevalensi kasus stunting cenderung meningkat.
Hal itu dikatakan Penjabat Sekda Kota Sukabumi M Hasan Asari saat menerima kedatangan tim Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi, Jumat, 1 November 2024. Hasan menuturkan, meskipun Kota Sukabumi memiliki wilayah yang relatif kecil, tapi dihadapkan dengan permasalahan stunting.
"Luas wilayah Kota Sukabumi itu hanya 48,33 kilometer persegi. Tapi kondisi geografis ini tak terlepas dari permasalahan serius terkait generasi penerus. Salah satunya stunting," kata Hasan dikutip dari laman kdp.portalsukabumikota.go.id, Jumat, 1 November 2024.
Baca Juga: Tanggulangi Stunting, Bupati Sukabumi Tekankan Peran Pentahelix
Berdasarkan data, pada 2021 hasil SSGI menyebutkan angka prevalensi kasus stunting di Kota Sukabumi sebesar 19,1 persen. Angkanya terpantau naik menjadi 19,2 persen pada 2022 meskipun persentasenta berada di bawah provinsi dan nasional.
Lonjakan cukup signifikan terjadi pada 2023. Angka prevalensi kasus stunting melonjak menjadi 26,9 persen atau naik 7,7 persen.
Sementara berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), jumlah keluarga di Kota Sukabumi pada 2023 sebanyak 91.339 keluarga. Dari jumlah tersebut, hasil verifikasi dan validasi sebanyak 32.625 keluarga dikategorikan sebagai keluarga berisiko stunting (KRS).
Baca Juga: Aksi Zero New Stunting, Bupati Marwan tekankan Peran Nakes di Setiap Puskesmas
Sedangkan jumlah seluruh balita yang diukur pada Juni sebanyak 20.239 orang. Sebanyak 1.291 balita atau 6,38 persen dinyatakan stunted.
Berbagai upaya dilakukan Pemkot Sukabumi mempercepat penanganan stunting melalui intervensi sensitif dan spesifik. Intervensi sensitif antara lain dilakukan dengab Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT), sarana air bersih (SAB) di lima lokasi untuk 40 kepala keluarga, peningkatan mutu kualitas vaksin dengan vaccine refrigerator, penyuluhan dan pelayanan KB dan integrasi layanan primer, serta penyusunan SOP tata laksana balita dengan masalah gizi tumbuh dan kembang.
Sedangkan intervensi spesifik di antaranya dilakukan dengan pemeriksaan tumbuh kembang dan kondisi kesehatan balita yang jadi sasaran dan lain lain.
Baca Juga: Bahas Anak, Begini Respon Bunda Forum
"Wilayah yang menjadi locus stunting pada 2023 berada di 6 kelurahan. Kemudian pada 2024 di 12 kelurahan. Tahun depan locusnya di 15 kelurahan. Ini dalam rangka mempercepat penurunan angka kasus prevalensi stunting," pungkasnya.
Ketua Tim SSGI Firza Marhamah menjelaskan, kedatangannya ke Kota Sukabumi untuk memetakan kasus stunting dalam rangka percepatan penanganan stunting. Survei akan dilaksanakan selama 43 hari di 7 kecamatan.
"Semoga dari survei ini bisa menghasikan yang terbaik untuk Kota Sukabumi," pungkasnya.