“Dimulai dari tidak adanya jaminan negara berubah ternyata ada jaminan negara,” tambahnya.
Pernyataan ini menyinggung perbedaan antara janji awal proyek dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, terutama terkait pembiayaan yang menimbulkan beban utang cukup besar.
Lebih lanjut, Hasto menuturkan bahwa Megawati sebenarnya sempat mengusulkan alternatif proyek yang lebih merata manfaatnya bagi masyarakat.
Alih-alih membangun kereta cepat, Megawati disebut mendorong pembangunan jalur ganda atau double track di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Sumatera.
“Saat itu Ibu Mega mengusulkan daripada kereta api cepat lebih baik untuk membangun double track kereta api termasuk misalnya di Sumatera,” pungkas Hasto.
Usulan tersebut, kata Hasto, didasarkan pada pandangan bahwa pemerataan pembangunan transportasi di berbagai daerah akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Baca Juga: Cetak Hattrick! Maxwell Sukses Persembahkan 3 Poin Penuh untuk Persija Jakarta dari Solo
Pernyataan Hasto ini menambah daftar kritik yang muncul terhadap proyek Kereta Cepat Whoosh, terutama setelah isu beban utang dan efisiensi proyek kembali mencuat ke publik.
Artikel Terkait
Operasional Kereta Cepat Whoosh Sering Terganggu Akibat Layang-Layang, KCIC Ungkap ada 20 Kejadian
Di Balik Isu Perang Dingin Purbaya vs Luhut di Sidang Kabinet, Ada Jejak Beda Pendapat soal Whoosh hingga Family Office
Dugaan Korupsi Proyek Whoosh Mengemuka, Mahfud MD: KPK Harus Langsung Bertindak
Proyek Whoosh ke Surabaya: AHY Sebut Koordinasi dengan Sejumlah Pihak hingga Sentil Pemda untuk Berkontribusi
Soal Dugaan Mark Up Biaya Proyek Whoosh, KPK Persilakan Buat Laporan untuk Penyelidikan Resmi
Soal Isu Dugaan Mark Up Proyek Whoosh, Mahfud MD Siap Dipanggil KPK
Ketua KPK Ungkap Kabar Terbaru soal Dugaan Kasus Korupsi Kereta Cepat Whoosh
Soal Proyek Whoosh, Mahfud : KPK Bisa Panggil Jokowi