Selasa, 21 April 2026

Menanti Respon Cepat RI demi Demand Ekspor Tak Turun usai IHSG BEI pada Selasa, 8 April 2025 Melemah 596,33 Poin

Photo Author
FS Supriadi, FajarSukabumi.com
- Selasa, 8 April 2025 | 12:24 WIB

FAJARSUKABUMI - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia dibuka usai libur panjang Lebaran 2025, pada Selasa, 8 April 2025 pukul 09.00 WIB.

Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI melemah 596,33 poin atau 9,16 persen ke posisi 5.914,28.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 92,61 poin atau 11,25 persen ke posisi 651,90.

Baca Juga: IHSG BEI Hari Ini Melemah 9,16 Persen, Pengamat Sebut 50 Negara Siap Nego Imbas Dampak Tarif Impor AS

Terkait hal itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sebelumnya memproyeksikan IHSG berpotensi akan bergerak melemah terdampak sentimen kebijakan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS).

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance 6.200 - 6.570," ungkap Nico dalam analisisnya kepada awak media di Jakarta, pada Selasa, 8 April 2025.

Meskipun terdapat lebih dari 50 negara yang mengajukan negosiasi terhadap kebijakan tarif impor AS, namun hal itu masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan penyesuaian dan kesepakatan.

Baca Juga: IHSG Bursa Efek Indonesia Dibuka pada Selasa, 8 April 2025: Melemah 9,16 Persen

Dari dalam negeri, Nico menilai perlunya respon cepat dan tepat dari pemerintah agar demand ekspor tidak menurun dan kepercayaan investor dapat pulih kembali.

Sebelumnya, RI telah mengambil pendekatan negosiasi sebagai respons terhadap kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen dari AS.

Nico menyoroti Pemerintah Indonesia yang meningkatkan volume impor, seperti komoditas seperti gandum, kapas, dan produk minyak serta gas dari AS.

Baca Juga: Pengacara Lisa Mariana Klaim Komunikasi Kliennya dengan Ridwan Kamil Lewat Ajudan Dimulai Usai Mengabarkan Kehamilannya

"Strategi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan tarif, mengingat neraca perdagangan AS terhadap Indonesia masih mencatat defisit sekitar 17,88 miliar AS pada tahun 2024," tutur Nico.

Editor: FS Supriadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

IFG Apresiasi Jamkrindo, Dorong UMKM Naik Kelas

Sabtu, 18 April 2026 | 06:42 WIB

Workshop UMMI Cetak Wirausaha Muda Sukabumi

Kamis, 16 April 2026 | 07:18 WIB

DKUKM Sukabumi Dorong Penguatan Usaha Desa

Senin, 13 April 2026 | 10:15 WIB
X