FAJARSUKABUMI - Ketika banyak lembaga zakat masih berjuang menumbuhkan kesadaran masyarakat soal pentingnya berzakat, Kecamatan Jampangtengah di Kabupaten Sukabumi justru sudah melaju jauh. Tidak hanya konsisten, tetapi juga mencatatkan rekor sebagai UPZ kecamatan terbaik empat tahun berturut-turut.
Apa yang membuatnya berbeda? Tidak ada kampanye besar-besaran. Tidak ada sistem digitalisasi canggih. Tidak pula iming-iming hadiah atau gimmick marketing. Yang ada hanyalah satu pendekatan sederhana mendekati masyarakat secara langsung, dari hati ke hati.
Itulah yang diungkapkan Camat Jampangtengah, Chaerul Ichwan. Dengan tenang, ia membagikan kunci sukses UPZ di wilayahnya yang dari luar mungkin tampak sepele, tapi terbukti membuahkan hasil besar.
Baca Juga: Dana Pensiun ASN Terancam, Pemerintah Soroti Likuiditas Program THT Taspen
“Kuncinya adalah pendekatan dengan masyarakat.Kami tidak meminta, kami mendekat. Kami tidak menyuruh, kami mengajak,” ucap Chaerul.
Di bawah kepemimpinan Chaerul Ichwan, strategi pengelolaan UPZ tidak berjalan dari atas ke bawah. Sebaliknya, ia justru mengangkat kekuatan akar rumput, para kepala desa, ketua RW, RT, tokoh agama, hingga guru ngaji.
“Kami libatkan mereka semua. Bahkan sebagian besar dari mereka sekarang masuk ke dalam kepengurusan UPZ. Itu yang membuat zakat bukan lagi urusan Baznas atau kantor kecamatan, tapi urusan bersama,” jelasnya.
Dengan melibatkan tokoh yang sudah dipercaya masyarakat, pendekatan soal zakat pun menjadi lebih mudah diterima. Sosialisasi berjalan dengan alamiah. Tidak kaku. Tidak formil.
“Kalau ustaz yang ngomong, warga dengar. Kalau RW yang ngajak, mereka percaya. Karena mereka kenal, dekat. Maka zakat pun jadi terasa relevan, bukan sesuatu yang jauh atau rumit,” imbuhnya.
Bagi Camat Chaerul, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi momentum gerakan sosial. Ia menjadikan bulan suci sebagai ruang strategis untuk menyentuh kesadaran masyarakat lewat kegiatan muhibah—kunjungan keliling ke masjid dan mushola bersama tim UPZ.
Baca Juga: Sedan Bekas di Bawah Rp50 Juta Masih Jadi Incaran, Ini Daftar Pilihannya
“Kami keliling ke masjid-masjid. Tidak hanya ceramah, tapi juga menyampaikan informasi soal zakat, infak, dan sedekah. Kami bawa data, kami tunjukkan ke mana uangnya disalurkan, siapa yang menerima. Transparansi itu penting,” ujar dia.