FAJARSUKABUMI - Cukup banyak jaringan irigasi di Kabupaten Cianjur yang rusak terdampak bencana hidrometeorologi basah pada awal Desember 2024. Kondisi itu tentu berdampak signifikan terhadap lahan pertanian akibat pasokan air yang tersendat.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUTR Kabupaten Cianjur, Bambang Sudrajat, menuturkan mayoritas jaringan irigasi terdampak bencana kondisinya tertutup material tanah longsor. Padahal, selama ini jaringan irigasi menjadi andalan para petani mengairi lahan sawah mereka.
"Karena salurannya terputus, jelas berdampak terhadap masyarakat," kata Bambang, Senin, 6 Januari 2024.
Baca Juga: Sering Terjadi Angin Kencang, DLH Cianjur Waspadai Potensi Kerawanan Pohon Tumbang
Wilayah terdampak bencana hampir seluruhnya berada di selatan yang tersebar di 17 kecamatan. Bambang menuturkan, jaringan irigasi yang rusak terdampak bencana paling banyak berada di Kecamatan Kadupandak.
"Terus ada juga di Kecamatan Takokak serta di Kecamatan Pagelaran," terang dia.
Upaya penanganan dilakukan secara berangsur. Penanganannya melibatkan masyarakat petani tergabung pada Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Baca Juga: Alun-alun Cianjur Bakal 'Disulap' Mirip Pelataran Masjid Nabawi di Madinah
"Kita lakukan pembukaan saluran irigasi yang tertutup tanah longsor. Untuk (saluran) yang lain butuh bantuan bronjong," ungkapnya.
Bambang menaksir nilai kerugian akibat kerusakan jaringan irigasi berkisar Rp5 miliar lebih. Dia mengaku untuk biaya penanganan meminta bantuan ke pemerintah pusat.
"Stok bronjong kita sudah menipis. Jadi, memang butuh bantuan untuk menangani kerusakan jaringan irigasi," pungkasnya.