Lahan cabai yang ditata rapi dengan lanskap perbukitan menjadi daya tarik tersendiri. Desa Cipeuteuy kini dirintis sebagai kawasan agrowisata hortikultura.
“Kami ingin pengunjung bisa datang, belajar bertani, memetik cabai langsung, dan sekaligus menikmati alam,” ujar Purnama.
Hal ini diamini oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sri Astuti Hararap, yang melihat Kabandungan sebagai titik strategis pengembangan kawasan agroindustri hortikultura.
“Kabupaten Sukabumi ini kabupaten ‘palugada’, apa saja bisa tumbuh. Khususnya Kabandungan, sangat cocok untuk hortikultura,” katanya.
Sri Astuti juga menyoroti munculnya petani-petani milenial di kawasan ini. Anak-anak muda yang dulu enggan kembali ke kampung, kini mulai tertarik dengan peluang bisnis dari pertanian.
Mereka bukan hanya bertani secara konvensional, tetapi juga mulai belajar agribisnis modern, pengemasan produk, hingga pemasaran digital.
Baca Juga: Mobil Modern Tak Lagi Sekadar Alat Transportasi, Kini Jadi Sarana Gaya Hidup dan Keamanan
Pemerintah daerah pun aktif melakukan pendampingan untuk memperkuat rantai usaha tani dari hulu ke hilir.
“Kami dorong pendampingan intensif agar para petani muda ini tidak hanya bisa menanam, tapi juga menjual dengan nilai tambah,” ujar Sri.
Cipeuteuy kini tak lagi sekadar desa di pinggiran selatan Sukabumi. Ia tengah tumbuh menjadi contoh desa mandiri pangan dan ekonomi. Dengan semangat gotong royong, inovasi warga, dan dukungan pemerintah, Cipeuteuy memberi gambaran bahwa kebangkitan desa bisa dimulai dari sebutir cabai.
Artikel Terkait
Cabai dan Bawang Berfluktuatif, Begini Harganya Sekarang
Harga Cabai Merah di Sukabumi Semakin Pedas
Gara-gara Petani Panen Dini, Segini Harga Cabai di Cianjur Usai Nataru
Harga Cabai dan Sayuran Naik di Pasar Tradisional Kota Sukabumi
Petik Cabai di Kabandungan, Andreas Beri Pesan Menohok