FAJARSUKABUMI - Jalanan kecil berliku di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, kini tak hanya dilalui oleh warga lokal. Truk pengangkut hasil panen dan mobil para pengunjung luar daerah mulai lalu-lalang.
Siapa sangka, kampung yang dahulu dikenal sebagai desa biasa di pelosok selatan Sukabumi itu, kini mulai menjelma menjadi kawasan pertanian hortikultura yang menjanjikan.
Lahan-lahan yang sebelumnya didominasi semak dan kebun campur kini disulap menjadi hamparan tanaman cabai merah yang menyala di antara hijaunya pegunungan.
Baca Juga: Ciracap, Permata Tersembunyi di Selatan Sukabumi
Kepala Desa Cipeuteuy, Purnama Wijaya, menyebutkan bahwa saat ini terdapat 36 hektare lahan cabai aktif yang digarap warga. Tak main-main, target pengembangannya mencapai 100 hektare.
"Awalnya hanya beberapa petani yang mencoba, tapi sekarang makin banyak yang ikut. Bahkan, kita sampai kekurangan tenaga kerja," ujarnya.
Bagi Purnama, bertani cabai bukan hanya soal hasil panen. Ini adalah jalan keluar dari kemiskinan yang selama ini membelenggu banyak kepala keluarga di wilayahnya.
Baca Juga: Ketika Pohon Gurun Tumbuh Subur di Tanah Sukabumi
Program ini juga dirancang untuk menciptakan jadwal tanam dan panen terstruktur, sehingga harga cabai tetap stabil dan petani tidak merugi.
"Kalau semua tanam bareng, panen bareng, harga anjlok. Makanya kami buat jadwal bergiliran," katanya.
Selain cabai, potensi pertanian lainnya juga mulai digarap, terutama komoditas hortikultura seperti tomat, terung, dan sayuran dataran menengah.
Baca Juga: Bangkit dari Krisis, AIG Tunjukkan Kekuatan Baru Berkat Kepemimpinan Peter Zaffino
Potensi pertanian yang terus berkembang ini membuka pintu untuk konsep agrowisata.
Artikel Terkait
Cabai dan Bawang Berfluktuatif, Begini Harganya Sekarang
Harga Cabai Merah di Sukabumi Semakin Pedas
Gara-gara Petani Panen Dini, Segini Harga Cabai di Cianjur Usai Nataru
Harga Cabai dan Sayuran Naik di Pasar Tradisional Kota Sukabumi
Petik Cabai di Kabandungan, Andreas Beri Pesan Menohok