Selasa, 21 April 2026

Ratusan Ribu Perempuan AS Mundur dari Dunia Kerja, Kebijakan Kantor Penuh Jadi Sorotan

Photo Author
FS Supriadi, FajarSukabumi.com
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 09:00 WIB
Ilustrasi tempat atau fasilitas sekolah bagi anak usia dini.  ((Unplash.com/GautamaArora))
Ilustrasi tempat atau fasilitas sekolah bagi anak usia dini. ((Unplash.com/GautamaArora))

 

 

FAJARSUKABUMI - Sebanyak 212.000 perempuan di Amerika Serikat dilaporkan meninggalkan dunia kerja sejak Januari 2025. Fenomena ini diungkap dalam laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis pada 1 Agustus 2025.

Penurunan signifikan terjadi terutama pada kelompok perempuan usia 25 hingga 44 tahun yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun. Tingkat partisipasi angkatan kerja kelompok ini merosot dari 69,7 persen menjadi 66,9 persen dalam kurun waktu enam bulan.

“Ini kemunduran besar,” ujar Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, sebagaimana dilaporkan TIME, belum lama ini.

Baca Juga: Ketua TP-PKK Sukabumi Ajak Orang Tua Awasi Anak, Ini Alasannya!

Menurut Heggeness, kemajuan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sempat mengalami lonjakan antara tahun 2022 hingga awal 2025, seiring diterapkannya kebijakan kerja fleksibel. Namun, tren itu kini berbalik setelah banyak perusahaan dan instansi pemerintah mewajibkan kembali kerja penuh di kantor.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memerintahkan seluruh pegawai federal untuk kembali bekerja dari kantor lima hari dalam sepekan. Kebijakan serupa diikuti oleh sejumlah perusahaan besar seperti Amazon dan JP Morgan.

Data Flex Index mencatat, proporsi perusahaan Fortune 500 yang mewajibkan kerja penuh di kantor naik dari 13 persen pada akhir 2024 menjadi 24 persen pada kuartal II 2025.

Baca Juga: Wali Kota Sukabumi Tegaskan ASN Harus Loyal dan Bebas dari Politik Praktis

Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS, menyatakan bahwa kebijakan tersebut berdampak besar terhadap perempuan berpendidikan tinggi. Tingkat partisipasi kerja mereka turun dari 70,3 persen pada September 2024 menjadi 67,7 persen pada Juli 2025.

“Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas hilang,” kata Vogtman.

Ia menambahkan, kerja jarak jauh menjadi solusi penting bagi perempuan untuk tetap bertahan di dunia kerja sambil menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Tanpa fleksibilitas tersebut, banyak perempuan memilih mundur dibandingkan pria.

Baca Juga: Update Klasemen Sementara Pekan Pertama BRI Super League! Persija Jakarta Bertengger di Puncak

Selain itu, krisis biaya dan akses penitipan anak juga menjadi faktor yang mendorong gelombang pengunduran diri. Pemangkasan anggaran federal untuk childcare memicu penutupan pusat penitipan atau kenaikan tarif, diperparah oleh deportasi massal yang berdampak pada tenaga kerja imigran di sektor tersebut.

Halaman:

Editor: FS Supriadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bobby Maulana Dorong Pelestarian WBTB di Sekolah

Sabtu, 4 April 2026 | 19:37 WIB
X