FAJARSUKABUMI - Momentum Hari Raya Idulfitri dan berbagai stimulus pemerintah diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 hingga 5,5 persen secara year-on-year (yoy).
Optimisme tersebut disampaikan Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin yang menilai konsumsi masyarakat menjadi kunci utama penggerak ekonomi di awal tahun.
Menurut Wijayanto, sepanjang kuartal I terdapat rangkaian momentum yang mendorong belanja masyarakat, mulai dari Natal dan Tahun Baru (Nataru), perayaan Imlek, Ramadan, hingga Idulfitri di akhir Maret.
Baca Juga: Aduan THR 2026 Masih Tinggi, Kemnaker Minta Pengawas Turun Tangan
Rangkaian momentum tersebut dinilai mampu menjaga perputaran uang dan aktivitas ekonomi tetap tinggi.
Ia menyebut, secara tren, Nataru dan Lebaran menyumbang sekitar 30–40 persen dari total belanja ritel tahunan, sehingga memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I.
“Belanja masyarakat selama Nataru dan Lebaran akan berdampak sangat tinggi bagi ekonomi kuartal I 2026, sehingga target pertumbuhan 5,5 persen berpeluang tercapai,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Sukabumi Ungkap Progres Jalan 62 Persen Baik dan 990 Rutilahu Tuntas
Wijayanto juga menilai perputaran uang saat Lebaran tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi menyebar ke daerah melalui aktivitas mudik.
Pemudik cenderung membelanjakan uangnya di kampung halaman, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan pemerataan.
“Lebaran selalu memberi dampak besar bagi ekonomi daerah karena ada aliran dana dari pemudik yang dibelanjakan di wilayah asal,” katanya.
Selain konsumsi Lebaran, kebijakan stimulus pemerintah turut memperkuat optimisme pertumbuhan ekonomi.
Salah satu kebijakan yang disorot adalah Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi ojek daring yang dinilai memberikan dampak sosial dan ekonomi meskipun nilainya tidak besar secara makro.